Selama ini ketika membahas bagian firman Tuhan ini, banyak hamba Tuhan menyoroti satu orang yang kembali kepada Yesus untuk mengucap syukur. Memang benar, itulah salah satu pelajaran penting dari kisah ini. Namun jika kita memperhatikan lebih dalam, ada makna yang lebih luas mengenai apa artinya memuliakan Allah.
Dalam ayat 14, Yesus berkata kepada mereka: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam."Dan ketika mereka sedang dalam perjalanan, mereka menjadi tahir atau sembuh.
Menariknya, setelah menerima mukjizat itu, hanya satu orang yang kembali kepada Yesus. Ia adalah seorang Samaria, seorang asing menurut pandangan orang Yahudi.
Lukas 17:15 berkata: "Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring."
Perhatikan baik-baik. Alkitab tidak hanya mengatakan bahwa ia kembali untuk bersyukur, tetapi ia kembali sambil memuliakan Allah.
Mengapa hal ini penting? Karena dalam ayat 19 Yesus berkata kepadanya: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau." Kesembilan orang lainnya menerima kesembuhan, tetapi satu orang ini menerima sesuatu yang lebih besar: keselamatan.
Ia bukan hanya menerima mukjizat, tetapi juga mengalami perjumpaan yang lebih dalam dengan Tuhan.
Dari bagian firman Tuhan ini, kita belajar dua makna penting tentang memuliakan Allah.
1. Memuliakan Allah adalah Respon atas Kebaikan Tuhan
Dalam ayat 18 Yesus berkata: "Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari orang asing ini?"
Yesus tidak pernah berkata kepada mereka, "Kalau sudah sembuh, kembalilah kepada-Ku dan bersyukurlah."
Namun orang Samaria itu tahu apa yang harus ia lakukan. Ia memahami bahwa mukjizat yang diterimanya berasal dari Tuhan, sehingga ia kembali untuk memuliakan Allah.
Memuliakan Allah adalah respon kita terhadap semua kebaikan Tuhan. Kita mengangkat tangan bukan karena suara kita bagus. Kita melayani bukan karena memiliki talenta yang hebat. Kita datang beribadah bukan karena rutinitas.
Kita memuliakan Allah karena kita menyadari betapa baiknya Tuhan dalam hidup kita. Setiap napas yang kita hirup adalah anugerah. Setiap hari yang kita jalani adalah kemurahan Tuhan. Setiap pertolongan yang kita alami adalah bukti kasih-Nya. Jangan pernah melupakan kebaikan Tuhan.
Mazmur berkata: "Pujilah Tuhan dan jangan lupakan segala kebaikan-Nya." Ketika kita mengingat semua kebaikan Tuhan, maka memuliakan Allah menjadi sesuatu yang lahir secara alami dari hati yang bersyukur.
2. Memuliakan Allah adalah Deklarasi Iman
Dalam ayat 17 Yesus bertanya: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?"
Selain menjadi respon syukur, memuliakan Allah juga merupakan deklarasi iman kita kepada Tuhan. Ketika kita memuji Tuhan, sesungguhnya kita sedang menyatakan siapa Tuhan bagi hidup kita.
Saat kita menyanyikan: "Aku punya Tuhan yang besar..." Kita sedang mendeklarasikan bahwa Tuhan lebih besar dari masalah kita.
Saat kita menyanyikan: "Walaupun gunung itu tak berpindah, tetap percaya..." Kita sedang menyatakan bahwa iman kita tidak bergantung pada keadaan.
Memuliakan Allah bukan hanya karena kita sudah menerima mujizat. Memuliakan Allah juga dilakukan ketika kita belum melihat jawabannya.
Ibrani 11:1 berkata: "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat."
Inilah sebabnya mengapa kita tetap memuliakan Tuhan sekalipun doa kita belum dijawab. Kita tetap menyembah ketika pergumulan masih ada. Kita tetap memuji ketika jalan keluar belum terlihat. Karena pujian adalah deklarasi iman bahwa Tuhan tetap bekerja.
Bagaimana Kita Bisa Tetap Memuliakan Allah?
Lukas 17:15 mengatakan: "Ketika melihat bahwa ia telah sembuh..."
Ada satu kata penting di sana: melihat. Orang Samaria itu melihat pekerjaan Tuhan dalam hidupnya. Masalahnya, sering kali kita hanya melihat masalah dan melupakan pertolongan Tuhan.
Kita mudah melihat apa yang belum Tuhan lakukan, tetapi lupa melihat apa yang sudah Tuhan kerjakan. Karena itu, belajarlah melihat kebaikan Tuhan, pertolongan Tuhan, enyertaan Tuhan dan mujizat Tuhan dalam hidup kita.
Dan sekalipun kita belum melihat semuanya, tetaplah memuliakan Allah. Karena iman tidak bergantung pada apa yang terlihat.
Memuliakan Allah memiliki dua makna penting yaitu memuliakan Allah adalah respon syukur atas semua kebaikan Tuhan. Kedua memuliakan Allah adalah deklarasi iman kita di hadapan Tuhan.
Jangan menjadi seperti sembilan orang yang menerima berkat tetapi lupa kembali kepada yang memberi Berkat.
Jadilah seperti satu orang Samaria yang kembali kepada Tuhan, memuliakan Allah dengan suara nyaring dan hati yang penuh syukur.
Ketika kita memuliakan Allah, bukan sekadar suara yang Tuhan dengar, tetapi hati yang sungguh-sungguh mengasihi-Nya. Kiranya melalui pujian, penyembahan, dan kehidupan kita, nama Tuhan semakin dimuliakan.
Ps Claudia Kezia Waworuntu (Ibadah Worship Night 170626)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih dan Tuhan Yesus Memberkati Saudara !