Untuk mencapai hidup yang berubah dan berbuah, kita perlu menanyakan: “Sudahkah hidup kita berbuah di hadapan Tuhan?” Berbuah bukan perkara mudah. Butuh waktu, pengorbanan, dan kesetiaan. Tapi kabar baiknya: Tuhan masih memberi kesempatan.
Yesus berkata, “Mungkin tahun depan ia berbuah.” Itu berarti Tuhan masih memberikan waktu dan kesempatan bagi kita untuk menghasilkan buah.
Mungkin, sebelum akhir tahun 2025 ini, Tuhan ingin kita jemaat Ekklesia benar-benar berbuah!
Dalam perumpamaan ini, pemilik kebun berkata: “Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini, tetapi tidak kutemukan.” Artinya, ada kurun waktu yang Tuhan berikan untuk setiap kita menghasilkan buah.
Tiga tahun, bagi pemilik kebun, sudah cukup lama menunggu. Dan ia hampir memutuskan untuk menebangnya.
Tetapi masih ada suara pengantara yang berkata, “Tuan, biarkanlah tahun ini lagi…”
Itulah kasih karunia dan kesempatan dari Tuhan. Selama kita masih hidup, selama kita masih bisa bangun pagi, itu berarti Tuhan masih memberi kesempatan untuk berbuah. Hidup adalah anugerah. Selama kita bernafas, Tuhan berkata, “Masih ada waktu untuk berbuah.”
Banyak orang mengabaikan kesempatan Tuhan. Seperti video yang sempat viral: seorang DJ menerima saweran ratusan juta rupiah, uang yang dihamburkan sia-sia. Orang tertawa, bersorak, bersenang-senang.
Tapi hidup bukan untuk dihamburkan.
Hidup cuma satu kali, dan kesempatan itu tidak datang dua kali.
Tuhan mau kita menghargai waktu, bukan menyia-nyiakannya.
Jangan sampai hidup kita “ditanam di tanah ini dengan percuma.”
Yesus juga berbicara tentang benih dan tanah dalam Markus 4:1–8.
Ada empat jenis tanah: Pinggir jalan, erbatu-batu, semak duri dan tanah yang baik.
Semua benih bertumbuh, tetapi tidak semua berbuah. Firman Tuhan menegaskan bahwa yang ditabur di tanah yang baiklah yang “tumbuh dengan suburnya dan berbuah, ada yang tiga puluh, enam puluh, dan seratus kali lipat.” Jadi, bertumbuh itu baik — tapi berbuah adalah tujuan akhirnya.
Bertumbuh sama dengan mendengar Firman Tuhan dan menerimanya dengan sukacita. Berbuah sama dengan mendengar, menyambut, dan melakukan Firman Tuhan.
Markus 4:16–17 berkata: “Mereka mendengar Firman dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi tidak berakar... Ketika datang penindasan, mereka segera murtad.”
Artinya, banyak yang bertumbuh cepat, tapi tidak kuat saat diuji.
Namun di ayat 20 dikatakan: “Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar Firman itu, menyambutnya, lalu berbuah.”
Berbuah terjadi ketika Firman diterima dan dilakukan.
Firman Tuhan itu sempurna — tetapi yang menentukan hasilnya adalah tanah hati kita. Apakah hati kita seperti di pinggir jalan (mudah diambil iblis), tanah berbatu (cepat menyerah), semak duri (terhimpit dunia), atau tanah yang baik (siap menerima dan memelihara Firman).
Bukan Firman yang salah, tapi respon hati kita yang menentukan apakah kita akan berbuah atau tidak dan dimana kita menempatkan firman itu. Firman datang bukan hanya untuk menghibur, tapi juga menyatakan kesalahan, menegur, mendidik, juga mengajar.
Kalau Firman menegur, jangan menolak. Kalau Firman menantang, sambutlah. Karena setiap teguran Tuhan adalah kesempatan untuk bertumbuh dan berbuah.
Berbuah bukan hanya di gereja. Di luar sana di rumah, di tempat kerja, di kampus, dunia harus melihat buah kita, buah kesabaran, buah kasih, buah pengampunan, buah iman dan ketaatan. Kalau di gereja kita angkat tangan, tapi di rumah marah-marah, berarti belum berbuah sungguh-sungguh. Buah sejati terlihat di luar gereja.
Setiap kesulitan adalah kesempatan berbuah. Saat disakiti itu adalah kesempatan untuk mengampuni. Saat kekurangan itu adalah kesempatan untuk percaya dan memberi. Saat diuji itu adalah kesempatan untuk tetap setia. Setiap hari Tuhan memberi kesempatan baru: “Mungkin tahun depan ia berbuah.” Jangan tunggu sampai kesempatan itu habis.
Markus 4:20 berkata: “Ia berbuah ada yang tiga puluh, enam puluh, dan seratus kali lipat.” Itu berarti berkat Tuhan akan berlipat ganda bagi orang yang mendengar, menyambut, dan melakukan Firman.
Berbuah bukan hanya soal hasil, tapi juga soal ketaatan. Dan Tuhan yang melihat hati kita akan melipatgandakan hasilnya. Saudara yang dikasihi Tuhan, Jika hari ini kita masih hidup, masih bisa bernapas, itu tandanya Tuhan masih memberi kesempatan untuk berbuah.
Jangan puas hanya dengan bertumbuh. Berubahlah, dan hasilkan buah bagi kemuliaan Tuhan. “Terimalah Firman, sambutlah Firman, dan lakukanlah Firman.” Karena saat kita berbuah, berkat Tuhan pun akan melimpah tiga puluh, enam puluh, bahkan seratus kali lipat.
Pdm Claudia Kezia Waworuntu S.I.Kom (Gembala) Ibadah Raya & Perjamuan Kudus 021125


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih dan Tuhan Yesus Memberkati Saudara !